Rijsttafel bukan sekadar makanan. Ini adalah artefak sejarah di atas piring.
Dikembangkan selama era kolonial Belanda, penyebaran masakan Indonesia yang rumit ini tetap menjadi makanan pokok di Belanda. Namun cerita di baliknya rumit. Banyak penduduk asli Indonesia yang menghindarinya. Mengapa? Karena nuansa politiknya berat. Hidangan ini membawa beban sejarah kolonial.
Jadi apa sebenarnya itu?
Anggap saja sebagai jawaban Belanda untuk nasi padang. Orang Belanda kemungkinan besar terinspirasi oleh tradisi aneka hidangan Indonesia yang serupa. Namun ketika kolonial Belanda pulang dari Indonesia, mereka membawa lebih dari sekedar kenangan. Mereka menyukai saus sate. Makanan pokok kacang pedas itu menjadi nama rumah tangga. Mereka juga membawa praktik menyajikan banyak hidangan kecil sekaligus.
Tujuannya adalah untuk memamerkan masakan nusantara yang beragam dan beraroma.
Rijsttafel tradisional terdiri dari sepiring nasi di tengahnya. Di sekelilingnya, Anda menemukan sederet lauk pauk. Daging kari. Ikan. Ayam. Sayuran. Buah-buahan. Menikmati. acar. saus. Bumbu. Gila. telur. Daftarnya tidak ada habisnya.
Makan malam dimulai dengan nasi. Kemudian mereka memilih lauk pauk untuk membangun keseimbangan. Anda ingin asin. Anda ingin pedas. Anda ingin yang manis. Anda ingin asam. Anda mencampur dan mencocokkan sampai rasa itu selaras.
Ini bukan makan siang sebentar.
Rijsttafel yang terdiri dari 40 hidangan bukanlah hal yang aneh. Kita berbicara tentang makanan yang membutuhkan waktu tiga hingga empat jam untuk dikonsumsi. Ini adalah sebuah peristiwa. Ini adalah ujian ketahanan. Ini adalah perayaan rasa yang tidak bisa diburu-buru.
“Pesan makan dihidangkan sepiring nasi dan kemudian memilih lauk pauknya untuk mencapai keseimbangan rasa asin, pedas, manis, dan asam.”
Apakah ini sepadan dengan waktunya? Bagi yang menyukai rasa kompleks dan tidak keberatan duduk berjam-jam, ya. Bagi yang lain, sejarahnya mungkin terlalu sulit untuk ditelan. Hidangan ini tetap populer di Belanda. Namun di luar negeri, di Indonesia sendiri, sambutannya beragam. Beberapa orang melihatnya sebagai penghormatan yang lezat terhadap budaya mereka. Yang lain melihatnya sebagai pengingat akan pendudukan.
Rijsttafel berada di area abu-abu itu. Ini enak. Hal ini penuh dengan politik. Ini sepenuhnya unik.
Bagaimana Anda menangani makanan yang memakan waktu empat jam untuk dimakan? Anda melambat. Anda terlibat. Anda berbicara. Atau Anda hanya menikmati makanannya dan mencoba untuk tidak memikirkan kerajaan yang membangun meja tersebut.
Rasanya cerah. Teksturnya bervariasi. Sejarah tidak dapat disangkal.

























