Istilah kencan remaja terasa seperti mengartikan hieroglif kuno bagi siapa pun di luar generasi tersebut, dengan istilah seperti “situasi”, “daftar nama”, dan “remah-remah” menggantikan konsep pacaran yang lebih sederhana. Untuk mengetahui secara nyata seperti apa cinta anak muda saat ini, kami berbicara langsung dengan remaja Gen Z melalui SheKnows Teen Council. Apa yang muncul bukan sekedar kamus bahasa gaul – tapi juga gambaran sekilas tentang kompleksitas, kecemasan, dan ekspektasi yang terus berkembang yang membentuk hubungan remaja modern.
Tahapan “Berbicara”: Lebih dari Sekadar Mengirim SMS
Bagi para gadis di dewan, menjalani percintaan dimulai dengan tahap yang mereka sebut “berbicara”. Ini bukan sekedar pesan biasa; ini adalah periode yang ditandai dengan obrolan larut malam, coretan Instagram, dan acara nongkrong yang dikurasi dengan cermat sebagai “hanya teman”. Ini semua tentang mengukur minat sambil mempertahankan sikap acuh tak acuh.
Ambiguitas ini sering kali merembes ke tahap berikutnya – “situasi”. Istilah ini menggambarkan dinamika di mana pasangan terlibat dalam perilaku yang biasanya dikaitkan dengan hubungan berkomitmen: FaceTime larut malam, menonton film di malam hari, dan kerentanan emosional – tanpa benar-benar memiliki label hubungan yang jelas. Gadis-gadis ini mengakui ketegangan yang melekat pada tahap ini, mendambakan kejelasan di tengah budaya yang tumbuh dalam ambiguitas.
Menariknya, anak laki-laki yang disurvei menawarkan perspektif berbeda. Bagi mereka, label terasa kurang penting; hubungan ada atau tidak. “Berbicara” bagi mereka menunjukkan keadaan kemajuan yang tidak terdefinisi – menuju ke suatu tempat yang tidak ditentukan, namun belum sampai ke sana. Kontras ini menyoroti potensi kesenjangan gender dalam gaya komunikasi: perempuan sering membedah nuansa emosional sementara laki-laki cenderung memprioritaskan tindakan dan harapan.
Dilema yang Mengerikan: Breadcrumbing dan Daftar Nama
Percakapan menjadi lebih gelap ketika para remaja menemukan istilah seperti “breadcrumbing” dan “roster”. Meskipun anak-anak tersebut awalnya bingung dengan definisi “breadcrumbing”, analogi dongeng mereka – seperti Hansel dan Gretel yang terpikat oleh jalan yang salah – menangkap esensinya. Pada kenyataannya, ini menggambarkan tindakan menawarkan isyarat ketertarikan yang menggiurkan tanpa niat komitmen yang tulus. Pikirkan teks sporadis yang tidak pernah terwujud menjadi rencana atau suka di media sosial tanpa tindak lanjut. Konsekuensinya? Seseorang terjerat dalam jaringan sinyal yang beragam, dan tidak membawa hasil yang baik.
“Roster”, yang dipinjam dari terminologi olahraga, menyoroti pendekatan kencan yang tampaknya biasa-biasa saja yang dianut oleh banyak remaja saat ini. Hal ini mengacu pada mempertahankan berbagai prospek romantis secara bersamaan, yang didorong oleh sifat media sosial dan komunikasi instan yang selalu aktif. Meskipun pada awalnya dibingkai sebagai perilaku yang didominasi laki-laki (“Seperti halnya semua perempuan yang Anda ajak bicara…”), para gadis tersebut menunjukkan bahwa praktik ini tidak eksklusif: “Jangan khawatir,” mereka meyakinkan kami, menyiratkan bahwa ada dosis rosterisme yang sehat di kedua sisi kesenjangan gender.
Paradoks Gen Z: Kesadaran Diri di Tengah Ketidakpastian
Percakapan ini mengungkap generasi yang sangat sadar akan kompleksitas dan kontradiksi dalam berkencan. Meskipun label seperti “situasi” dan “daftar nama” mungkin tampak kacau bagi generasi tua, label tersebut mencerminkan upaya mengelola kerentanan emosional di dunia yang penuh dengan pilihan. Remaja saat ini sedang menghadapi batasan-batasan yang kabur, kepuasan instan, dan perbandingan sosial yang terus-menerus – bukan tantangan baru, namun diperkuat oleh era digital.
Pada akhirnya, remaja Gen Z tidak serta merta menghindar dari komitmen; mereka tampaknya lebih cenderung memprioritaskan kesadaran diri, keseimbangan, dan mengeksplorasi arti hubungan sejati di dunia yang sangat terhubung dan penuh dengan berbagai kemungkinan. Kejujuran mereka menunjukkan bahwa bahkan di tengah budaya “daftar” yang tampak biasa saja, terdapat pencarian keaslian yang mungkin mengejutkan mereka yang berasumsi bahwa generasi milenial dan Gen Z sama sekali tidak memiliki budaya tersebut.
