Penggerebekan ICE dan Perhotelan: Krisis yang Meningkat di Restoran Meksiko

16

Tindakan Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) baru-baru ini telah memicu perdebatan sengit mengenai etika taktik penegakan hukum, terutama ketika taktik tersebut mengganggu penghidupan pekerja imigran dan mengeksploitasi ruang budaya yang mereka tinggali. Insiden di El Tapatio, sebuah restoran Meksiko yang dikelola keluarga di Willmar, Minnesota, di mana agen ICE menikmati makan siang sebelum kembali untuk menahan tiga karyawannya, menggarisbawahi tren yang meresahkan: persenjataan keramahtamahan terhadap komunitas yang mereka layani.

Pola Penegakan

Ini bukanlah kasus yang terisolasi. Di Minnesota dan negara bagian lainnya, ICE telah meningkatkan penegakan hukum, dengan adanya laporan penggerebekan rumah, terkadang tanpa surat perintah yang tepat, dan meningkatnya iklim ketakutan di kalangan staf restoran. Tindakan badan tersebut bertepatan dengan peningkatan pengerahan pasukan federal – termasuk potensi mobilisasi 1.500 tentara yang diperintahkan oleh mantan Presiden Trump – yang semakin meningkatkan ketegangan.

Pemilik restoran, seperti Bruno di Kota Kembar, kini beroperasi dalam keadaan cemas. Banyak dari mereka yang mengunci pintu selama bertugas karena takut masuknya ICE tanpa pemberitahuan sebelumnya, dan telah berkonsultasi dengan pengacara untuk memahami hak-hak mereka jika ada potensi penggerebekan. Situasi ini menyebabkan beberapa perusahaan tutup sementara karena para pekerja menghindari risiko deportasi.

Kekejaman Waktu

Waktu terjadinya serangan El Tapatio sangat mengejutkan. Para agen makan malam di restoran tersebut, dilayani oleh staf yang ketakutan namun akomodatif, dan kemudian kembali beberapa jam kemudian untuk melakukan penangkapan. Tindakan ini telah dikutuk secara luas sebagai pengkhianatan terhadap norma-norma budaya, dan beberapa pengamat membandingkannya dengan pelanggaran terhadap keramahtamahan suci. Sejarawan Patrick Wyman menggambarkannya sebagai “jenis omong kosong yang akan membuat Anda benar-benar berada di luar batas masyarakat kuno mana pun,” dan menunjukkan bahwa perilaku seperti itu akan menimbulkan kutukan generasi dalam budaya yang lebih tua.

Selain Restoran Meksiko

Masalah ini tidak hanya mencakup masakan Meksiko. Pekerja imigran mencakup 36% pemilik restoran dan lebih dari 20% angkatan kerja di sektor ini, menjadikan restoran etnik sebagai sasaran empuk ICE. Laporan bermunculan mengenai agen yang memasuki tempat usaha dengan senjata terhunus, seperti insiden di sebuah restoran Thailand di St. Paul di mana seorang petugas menuduh pemiliknya “menyembunyikan seorang anak”.

Dilema Moral

Insiden ini telah memicu perdebatan yang lebih luas mengenai siapa yang dapat menikmati produk budaya seperti makanan Meksiko jika mereka mendukung kebijakan penegakan hukum yang mengancam komunitas yang menciptakannya. Beberapa pihak, seperti podcaster Jennifer Welch, telah menyerukan pelarangan para pendukung kebijakan imigrasi yang agresif dari restoran-restoran etnis.

Namun, banyak pemilik, seperti Caro di Washington, D.C., percaya bahwa pengecualian adalah kontraproduktif. Ia berpendapat bahwa keramahtamahan yang berkelanjutan dapat menjadi bentuk perlawanan, memungkinkan terjadinya pertukaran budaya dan potensi perubahan pikiran. Meski kehilangan karyawannya akibat penggerebekan ICE, ia tetap berkomitmen melayani semua pelanggan, bahkan mereka yang memiliki pandangan berbeda.

Kerugian Manusia

Dampaknya sangat buruk bagi para pekerja. Caro berbagi kisah tentang seorang manajer yang sudah lama menjabat yang ditahan dan ditahan selama berhari-hari tanpa makanan sebelum mendeportasi dirinya ke El Salvador, meninggalkan keluarganya di AS. Kisahnya tidak unik, karena banyak karyawan menghadapi pilihan yang sulit antara penahanan berkepanjangan atau meninggalkan kehidupan mereka di Amerika.

Kenyataannya adalah tindakan ICE menciptakan iklim ketakutan dan ketidakstabilan dalam komunitas imigran, memaksa dunia usaha untuk beradaptasi sementara para pekerja terus-menerus berada di bawah ancaman keterpisahan dari keluarga dan mata pencaharian mereka. Insiden di El Tapatio merupakan pengingat bahwa penegakan imigrasi bukan sekadar proses birokrasi; ini adalah tragedi kemanusiaan yang terjadi secara real time.

Meningkatnya penggerebekan ICE telah membuat taktik lembaga tersebut berada di bawah pengawasan ketat, memaksa dunia usaha dan masyarakat untuk bergulat dengan implikasi moral dari kebijakan penegakan hukum yang mengeksploitasi norma-norma budaya dan mengganggu kehidupan.