Irritable Male Syndrome: Memahami Kondisi Nyata Meski Sering Diabaikan

17

Rasa frustrasi yang dialami banyak pria seiring bertambahnya usia – meningkatnya kemarahan, perubahan suasana hati, dan menurunnya energi – bukan hanya masalah “menjadi tua”. Suatu kondisi yang dikenal, meskipun tidak didiagnosis secara resmi, disebut Irritable Male Syndrome (IMS) yang menggambarkan sekelompok gejala yang terkait dengan penurunan testosteron secara bertahap dan perubahan hormonal. Meskipun sering diabaikan dengan ungkapan seperti “laki-laki akan menjadi laki-laki”, IMS kini diterima di kalangan medis dan psikologis.

Ilmu Pengetahuan di Balik Sindrom ini

Istilah ini diciptakan pada tahun 2001 oleh Dr. Gerald Lincoln, yang mengamati pola perilaku serupa pada hewan jantan yang menua – domba, rusa, bahkan gajah – yang menghubungkan penurunan testosteron dengan peningkatan sifat mudah marah. Penelitian pada manusia mengkonfirmasi tren ini: testosteron mencapai puncaknya pada awal masa dewasa, tetap stabil hingga usia 30-an, dan mulai mengalami penurunan tahunan sekitar 1% setelah usia 40 tahun. Penurunan yang lambat ini sering kali bermanifestasi sebagai:

  • Pergeseran suasana hati: Meningkatnya sifat lekas marah, depresi, dan berkurangnya motivasi.
  • Perubahan kognitif: Kesulitan berkonsentrasi, kehilangan ingatan.
  • Efek fisik: Kelelahan, pengeroposan otot, penambahan berat badan, dan penurunan libido.
  • Gangguan tidur: Insomnia atau kualitas tidur yang buruk.

Perubahan ini tidak terjadi secara tiba-tiba; mereka terakumulasi seiring waktu, membuatnya mudah dikaitkan dengan stres atau penuaan umum. Namun, mengabaikannya dapat menimbulkan konsekuensi serius, termasuk ketegangan hubungan dan krisis kesehatan mental.

Mengapa Ini Penting Sekarang

IMS jarang dibicarakan secara terbuka, meskipun mempunyai potensi dampak terhadap kehidupan laki-laki. Pergeseran hormonal yang lambat dan bertahap menyebabkan gejala sering kali diabaikan atau salah didiagnosis. Kurangnya kesadaran ini berkontribusi pada statistik yang mengkhawatirkan bahwa pria paruh baya memiliki angka bunuh diri hampir lima kali lebih tinggi dibandingkan wanita.

Kesunyian seputar penurunan hormon pria menciptakan stigma budaya, sehingga lebih sulit bagi pria untuk mencari bantuan atau bahkan mengenali apa yang sedang terjadi. Berbeda dengan transisi menopause perempuan yang relatif mendadak, IMS sering kali “menyelinap” sehingga lebih sulit untuk diidentifikasi dan diatasi.

Apa yang Dapat Dilakukan?

Langkah pertama adalah pengakuan. Pria yang mengalami gejala yang konsisten sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk pemeriksaan kadar testosteron. Penyesuaian gaya hidup – nutrisi seimbang, olahraga, kebersihan tidur, dan pengurangan stres – dapat membantu meningkatkan kadarnya secara alami. Terapi penggantian testosteron juga bisa menjadi pilihan, meski memerlukan evaluasi medis yang cermat.

Bagi pasangan atau orang terkasih, pengertian adalah kuncinya. Ini bukan tentang kelemahan kepribadian; ini tentang perubahan biokimia yang mempengaruhi perilaku dan emosi. Komunikasi yang terbuka, dukungan yang tidak menghakimi, dan dorongan untuk mencari pertolongan medis sangat penting.

Pada akhirnya, mengungkap IMS sangatlah penting. Mengakui kondisi ini sebagai masalah kesehatan yang wajar – bukan kelemahan atau cacat karakter – akan menghilangkan stigma tersebut dan mendorong laki-laki untuk memprioritaskan kesejahteraan emosional dan fisik mereka. Semakin cepat hal ini terjadi, semakin cepat kita dapat mengatasi krisis diam-diam yang berdampak tidak hanya pada laki-laki tetapi juga keluarga dan hubungan mereka.